KITAB KUNING SOLUSI EKONOMI UMAT ISLAM
Selama setengah Bulan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama (IPNU) Kebumen, menggelar kegiatan Harlah (Hari Ulang Tahun) kelahiran IPNU yang ke – 55. kegiatan ini dilaksanakan di Pondok pesantren Syamsul Ma’arif Gg. garuda Kebumen dan puncak kegiatan ini dilaksanakan pada hari minggu, 22 Maret 2009 bertempat di Aula PC. NU Kebumen Jl. Kusuma No. 96 Kebumen.
Rangkaian kegiatan harlah IPNU ke- 55 diantaranya Halaqoh Perjalanan IPNU dari masa kemasa, Lomba Baca Kitab Syara’ Fathul Qorib tingkat santri Pondok Pesantren se-kabupaten Kebumen, Lomba Karya Ilmiah tingkat santri Pondok Pesantren dan Pelajar SLTA se-kabupaten Kebumen, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, serta sosialisasi dan simulasi pemilu 2009 bekerjasama dengan LSM BRAIN (Bumi Roma Institut) Kebumen.
Lomba Karya tulis Ilmiah dengan merebutkan Piala, Piagam, dan uang pembinaan dari bupati kebumen, juara ke 2 merebutkan piala Departemen Agama kebumen, Juara 3 merebutkan Piala PC. LP. Ma’arif Kebumen, sementara lomba Baca syara’ Kitab Kuning merebutkan piala dan uang pembinaan dari Prof. Dr. Tolkhah Mansur (Salah satu pendiri dan ketua pertama IPNU), juara kedua merebutkan piala PC. NU Kebumen, dan Juara ketiga merebutkan piala dan uang pembinaan dari PC. IPNU Kebumen, serta piagam, hadiah dan door prize bagi juara harapan 1- 3.
Ketua Cabang IPNU Kebumen mengatakan diera sekarang ini banyak santri di pondok pesantren yang merasa minder belajar kitab kuning padahal kalau dikaji lebih dalam kitab kuning khususnya dalam kitab Fathul qorib ada bab yang khusus menjelaskan tentang perekonomian umat Islam, bahkan dunia saja belajar ekonomi dari kitab kuning, bagaimana kedepan santri dilatih untuk bisa mentranslet kitab kuning dalam bahasa ekonomi dunia sehingga perekonomian global dipegang oleh pesantren, pengasuh pesantren juga didesak untuk memotifasi santri untuk mengkaji kitab kuning supaya bisa menjadi solusi ekonomi umat Islam. semua itu yang bisa menjawab adalah santri-santri yang ada di Pondok Pesantren, namun hal ini yang belum diketahui dipesantren. Dari sinilah umat Islam mendapat pengetahuan tentang kewirausahaan, karena itu kitab kuning bukan hanya menjadi bacaan wajib di pesantren namun menjadi dasar kajian dan implementasi santri dalam mengaplikasikan ilmunya serta bergelut dalam bidang wirausaha ditengah-tengah masyarakat.
Dibulan maulid Nabi Muhammad SAW, dalam memperingati ini menurut M. Anwarudin bukan hanya peringatan formal setelah diperingati tidak ada perubahan yang positif terjadi dalam masyarakat, tapi bagaimana dalam peringatan maulid Nabi kita bisa mencontoh kepemimpinan Nabi Muhammad SAW beliau selaku, pemimpin bangsa, pemimpin agama, serta pemimpin dalam keluarga dan masyarakat yang sukses, karena melalui bulan maulid ini besok sembilan April 2009 IPNU-IPPNU wajib berpartisipasi ikut memilih pemimpin yang mempunyai jiwa kepemimpinan seperti Rosululloh SAW, tidak pandang dari partai apapan mereka berasal, pilihlah calan wakil rakyat yang siap meneruskan perjuangan kepemimpinan Rosululloh SAW serta mempunyai sifat-sifat yang dimiliki Rosululloh SAW, seperti sifat, Sidiq, Amanah, tabligh , dan Fathonah, itulah pemimpin yang wajib kita pilih. Jangan sampai di pemilu, 9 April 2009 nanti kita salah pilih wakil rakyat yang tidak mempunyai moral dan tangungjawab terahadap masyarakat.
Gus Fatkhu Amanulloh putra pengasuh Pon. Pes Tatmainul Qulub, Tamanwinangun, selaku yuri, menyampaikan dengan diselenggarakanya Lomba Membaca Kitab Kuning (klasik) Syarah Fathul Qarib antar siswa/santri dalam rangka memperingati Harlah IPNU ke 55, merupakan ide kreatif yang jenius untuk memberi motifasi siswa generasi muslim dalam menggali khazanah ilmu Islam yang kini ‘terpendam’.
Kemampuan membaca dan memaham kitab kuning merupakan modal dasar yang amat besar untuk membuka kembali khazanah peradaban Islam yang sejak pasca abad pertengahan hijriyah mengalami stagnasi hingga sampai sekarang ini.
Perjalanan untuk menggapai kejayaan pemikiran dan peradaban dunia Islam sampai saat ini belum menampakkan hasil yang memuaskan. Apalagi hegemoni budaya barat semakin memperpuruk kondisi umat Islam khususnya di Indonesia.
Keadaan tersebut semakin parah dengan berkiblatnya generasi muda kepada budaya barat yang sarat dengan kesenangan dunia belaka (hedonisme) dan memburu harta benda (materialisme) yang tida cocok dengan budaya ketimuran (Islam). Para generasi muda banyak yang terperosok dalam dekadensi moral.
Permasalahan dekadensi moral di Indonesia saat ini telah memprihatinkan, banyak para pelajar yang putus sekolah sebab kecanduan minuman keras dan narkoba para gadis mengacu pada pergaulan bebas menyebabkan hilangnya keperawanan tanpa menikah sehingga banyak yang melakukan aborsi dan banyak lagi permasalahan hilangnya kepercayaan diri pada mereka.
Fenomena ini banyak disebabkan dari sistem pendidikan yang hanya mengedepankan kecerdasan IQ semata, keserdasan sepiritual semakin diabaikan, moral mereka terlalu sedikit diarahkan untuk berbudi luhur.
Tak ayal lagi generasi bangsa yang telah menjadi para pemimpin kehilangan kendali sifat amanah, mengakibatkan banyak praktek kecurangan di lembaga pemerintahan, korupsi dan kolusi kini merajalela mulai dari tingkat RT sampai tingkat pusat.
Hanya dengan agamalah permasalahan moral bangsa dapat teratasi. Dengan agama para generasi bangsa akan bangkit berjuang dengan ikhlas, mereka merasa sebagai khalifah yang amanah akan menjadi calon pemimpin bangsa yang bermoral.
Namun pengamalan agama di Indonesia saat ini banyak yang bersifat ceremonial hanya bersifat formalitas belaka, ini disebabkan pemahaman agamanya yang parsial. Saat ini banyak bermunculan sekte-sekte agama yang tidak sesuai dengan Dasar Negara Indonesia, mungkin disebabkan kurang mendalamnya ilmu agama mereka.
Banyak umat Islam yang merasa cukup beragama, mereka hanya sebatas dapat membaca al-Qur’an dan terjemahNya saja. Kemampuan untuk menelusuri bahasa al-Qur’an tak mereka kuasai, tapi mereka mengklaim telah mengetahui isi kandungan al-Qur’an.
Seyogyanya bagi umat muslim untuk dapat memahaminya kitab-kitab kuning yang merupakan hasil interpetasi ulama yang mengetahui betul seluk beluk ilmu dan bahasa al-Qur’an.
Memahami kitab kuning merupakan hal yang sangat penting, apalagi bagi orang yang sungguh-sungguh berhasrat menguasai agama Islam. Tujuanya memaham al-Qur’an dengan referensi kitab kuning agar tidak menafsirkan pemahaman secara liberal dengan bebas tanpa kendali.
Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah banyak generasi muslim yang enggan untuk belajar memahami kitab kuning, mereka akan berhenti mengaji jikalau telah berhasil dapat membaca al-Qur’an, masalah ini yang harus kita perhatikan.
Oreintasi dan harapan kedepan dari diadakanya Lomba membaca kitab kuning adalah untuk mendorong lahirnya para generasi muslim yang berwawasan luas sehingga dapat mengamalkan ilmunya bagi dirinya dan masyarakat.
Even seperti ini perlu perhatian dari semua pihak, baik dari sekolah-sekolah, pondok-pesantren dan pemerintah untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, tegas Gus Fatkhu Amanulloh
Pesantren Riyadlotul Uqul dan Pon. Pes Miftahul ‘ulum Petanahan Rebut Juara I
Minat lomba kitab kuning serta karya ilmiah cukup besar dikalangan santri kabupaten Kebumen bisa dilihat dari peserta yang diikuti 68 dari perwakilan santri pondok pesantren yang ada di Kebumen, Pemenang juara Lomba Baca Kitab syara’ Fathul Qorib dari perwakilan Pesantren Riyadlotul Uqul Nampudadi Petanahan rekan M. Asroni, berhak membawa pulang piagam, piala Prof. Dr. Tolkhkah Mansur (Pendiri IPNU) serta uang pembinaan, Juara dua di rebut oleh Zen Mustofa dari Pondok Pesantren Darussa’dah, Kritig, Petanahan, Kebumen, Juara tiga direbut oleh Wirawanto. Sementara Lomba Karya ilmiah direbut oleh pondok pesantren Miftahul ‘Ulum Lirap, Petanahan, Kebumen rekan Mudzakir yang berhak membawa pulang, piagam piala serta uang pembinaan dari Bupati Kebumen, Juara 2 direbut oleh A. Zaenudin dari Pesantren Riyadlotul Uqul Nampudadi Petanahan, Juara tiga direbut rekan Amin Nuryadi, serta Juara Juara Harapan I di rebut oleh Pon. Pes Al-Islah Dorowati, Klirong, Juara harapan 2 di rebut oleh Abdul Rizal dari MA – Al-HUDA Rowokele dan harapan, 3 direbut oleh Supriyadi yang berhak mendapatkan piagam, doorprize serta hadiah dari panitia.